Mewaspadai Kutu Lilin Yang Mematikan

 

PINUS menduduki urutan kedua dalam memberikan pendapatan kepada perusahaan setelah kayu jati. Getah pinus  menjadi harapan dengan semakin berkurangnya potensi kayu. Produksi getah pinus sebagai pemasok bahan baku industri gondorukem dan terpentin meningkat dari tahun ke tahun. Realisasi produksi rata-rata dalam lima tahun terkhir (2005-2009) menunjukkan peningkatan, sehingga produksi mencapai 81.000 ton/tahun, dan prosentase realisasi mencapai 102%.

Kalau pada awalnya  Pinus merkusii dimaksudkan untuk menghasilkan kayu dan sebagai bahan pulp, kini produksi getahya menjadi andalan produk non kayu dan primadona pemasok pendapatan Perum Perhutani. Di Jawa, hutan pinus menduduki urutan kedua terluas setelah jati, dan KP Pinus yang diharapkan   bergetah mencapai luasan sekitar 145.000 Ha. Manajemen memproyeksikan  target pinus sebagai pemasok bahan baku industri gondorukem dan terpentin meningkat dari tahun ke tahun.

Produk olahan getah pinus tersebut merupakan bahan baku untuk banyak produk kebutuhan manusia, seperti bahan baku cat, lem, komponen tele-selular, bahan kosmetik, dan sebagainya. Getah pinus sendiri mempunyai keunggulan disbanding jenis pinus lainnya, yaitu Pinus merkusii memiliki kadar gondorukem 75,73% dan terpentin 73%. Ini lebih tinggi dibandingkan jenis pinus lainnya, seperti P. oocarpa dan P. cahbaea.

Keunggulan Pinus Merkusii dalam bergetah, ternyata tidak selalu mulus untuk memenuhi target. Dalam perkembangan penanaman tercatat beberapa hama menyerang, seperti penggerek pucuk Dioryctria rubella (Lepidopetra), penggerek daun Meliona basalis (Lepidopetra), Defoliasi, Nesodiprion biremes (Hymeneptopera), dan dewasa ini pinus mengalami serangan kutu lilin (Homotepra) yang mewabah. Dibanding   jenis pinus lain, pinus merkusii terdeteksi paling rentan terhadap serangan kutu lilin.

Kutu lilin menyerang tanaman pinus dengan cara menghisap cairan tanaman (poliphag) pada pucuk-pucuk tanaman muda atau tajuk tanaman tua. Akibat serangan itu pada kondisi parah tanaman pinus mengalami kekurangan cairan, kekeringan daun melayu dan akhirnya mati.

Pengendalian hama saat ini masih mengandalkan pestisida berbahan kimiawi, namun hanya mengatasi dalam jangka pendek dan amat riskan, karena dapat berdampak ekologis yang justru menimbulkan masalah baru.

 

 

Tue, 14 Aug 2012 @16:42


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Welcome
image

Perum Perhutani Unit 1 Jawa Tengah

Telp : 024-8413631 / Fax : 024-8443142


Perum Perhutani Unit 1 Jawa Tengah
Jl. Pahlawan No. 15-17 Semarang (50241)
email - perhutanijawatengah@yahoo.com
Yahoo Mesenger
joins us


ShoutMix chat widget

 

Copyright © 2019 Perum Perhutani Unit 1 Jawa Tengah · All Rights Reserved